
Sebelum datangnya Islam, wilayah Arab pra-Islam dikenal dengan istilah Zaman Jahiliyah, sebuah masa yang dipenuhi dengan penyimpangan akidah dan kebodohan spiritual. Pada masa itu, Ka’bah yang mulia, yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai pusat ibadah kepada Allah Yang Maha Esa, telah diselewengkan fungsinya. Ka’bah yang seharusnya menjadi pusat tauhid, justru berubah menjadi tempat peribadatan berhala.
Diriwayatkan dalam banyak sumber sejarah, termasuk catatan para sejarawan Islam seperti Ibnu Ishaq dan Ibnu Katsir, bahwa Ka’bah pernah dikelilingi oleh 360 patung berhala, mewakili jumlah hari dalam satu tahun kalender Qamariyah. Setiap suku Arab memiliki sesembahan masing-masing yang diletakkan di sekitar atau bahkan di dalam Ka’bah. Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat adalah tiga di antara berhala yang paling terkenal dan diagungkan oleh masyarakat Arab saat itu.
Praktik penyembahan berhala di sekitar Ka’bah tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurut riwayat, penyimpangan ini bermula ketika seorang tokoh bernama Amr bin Luhay dari suku Khuza’ah melakukan perjalanan ke Syam (Suriah) dan melihat penduduk di sana menyembah patung. Ia membawa pulang sebuah patung bernama Hubal, yang kemudian ditempatkan di dalam Ka’bah. Sejak saat itu, penyembahan berhala mulai menyebar luas di kalangan bangsa Arab.
Ka’bah pun berubah fungsi, bukan lagi sebagai tempat ibadah tauhid, melainkan menjadi pusat kegiatan ritual musyrik. Orang-orang dari berbagai suku Arab datang ke Makkah untuk menyembah berhala-berhala tersebut, sehingga menjadikan kota itu sebagai pusat ziarah dan perdagangan yang ramai.
Dari berbagai sumber sejarah, diketahui bahwa berhala-berhala yang ada di sekitar Ka’bah bukan sekadar dekorasi, melainkan dianggap sebagai perantara antara manusia dan Tuhan. Beberapa jenis berhala yang terkenal antara lain:
Setiap patung ini memiliki kisah dan ritus penyembahan tersendiri. Ritual yang dilakukan pun sangat menyimpang, mulai dari persembahan kurban hingga bentuk tarian dan nyanyian yang penuh kesesatan.
Baca Juga : Jumrah yang Ketiga Bernama Apa? Ini Penjelasannya
Setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Nabi Muhammad SAW diutus untuk mengembalikan ajaran tauhid yang murni kepada umat manusia. Dalam misi dakwahnya, beliau mendapat perlawanan hebat dari kaum Quraisy yang takut kehilangan pengaruh dan penghasilan dari penyembahan berhala.
Namun, perjuangan panjang Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya mencapai puncaknya pada peristiwa Fathu Makkah (Penaklukan Kota Makkah) pada tahun 8 Hijriyah. Dalam momen tersebut, Rasulullah SAW memasuki Masjidil Haram dengan penuh keagungan dan tanpa pertumpahan darah yang besar.
Dengan tongkat di tangannya, beliau menghancurkan satu per satu berhala yang mengelilingi Ka’bah sambil melantunkan ayat:
“Dan katakanlah: Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.”
(QS. Al-Isra: 81)
Sebanyak 360 patung berhala dihancurkan, dan Ka’bah dikembalikan kepada fungsi semula sebagai pusat ibadah kepada Allah SWT. Sejak saat itu, Makkah dibersihkan dari segala bentuk kesyirikan dan dijadikan pusat peradaban Islam.
Peristiwa ini bukan hanya sebuah kemenangan fisik, tetapi kemenangan spiritual yang menandai akhir dari era Jahiliyah. Ini menjadi simbol pembersihan akidah umat Islam, serta menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memurnikan tauhid dan menolak segala bentuk perantara dalam ibadah kepada Allah SWT.
Penghancuran berhala di Ka’bah juga mengajarkan kepada kita pentingnya menjaga kesucian tempat ibadah, serta pentingnya menjaga kemurnian ajaran agama dari pengaruh budaya dan penyimpangan.
Meskipun tidak ada sisa fisik dari patung-patung tersebut saat ini, banyak catatan sejarah dan manuskrip klasik yang menjadi bukti kuat atas keberadaan berhala-berhala tersebut. Bahkan dalam beberapa temuan arkeologis di wilayah Hijaz dan Syam, ditemukan patung-patung yang memiliki kemiripan dengan deskripsi dari literatur Islam klasik.
Selain itu, riwayat dari para sahabat dan tabiin, serta sejarawan Muslim awal, menjadi sumber dokumentasi yang kuat dan dipercaya keasliannya dalam menggambarkan masa-masa penuh kegelapan sebelum cahaya Islam datang.
Peristiwa dikelilinginya Ka’bah oleh ratusan patung berhala menyampaikan pesan penting bagi umat Islam di masa kini, antara lain:
Kisah tentang Ka’bah yang pernah dikelilingi oleh 360 patung berhala menjadi catatan penting dalam sejarah Islam. Ini bukan sekadar narasi masa lalu, tetapi peringatan dan pelajaran hidup bagi generasi Muslim saat ini dan masa depan. Dengan memahami sejarah ini secara mendalam, kita bisa lebih menghargai perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan tauhid dan menumbuhkan semangat untuk selalu menjaga keimanan yang lurus dan murni.
1 Komentar