
Kota Thaif, yang terletak sekitar 65 kilometer tenggara dari Makkah, merupakan salah satu wilayah penting dalam sejarah Islam. Dikenal karena udara sejuknya, kebun-kebun anggur dan buah-buahan yang subur, serta pegunungan yang memeluknya, Thaif menjadi tempat pelarian warga Makkah dari panasnya gurun. Namun, bagi Rasulullah SAW, Thaif menyimpan kisah duka dan keteguhan hati dalam perjuangan menyampaikan risalah Islam.
Setelah kematian dua pelindung utama beliau—istri tercinta Khadijah RA dan paman terkasih Abu Thalib—Rasulullah SAW menghadapi tekanan hebat dari kaum Quraisy. Tahun itu dikenang sebagai ‘Aam al-Huzn atau Tahun Kesedihan. Dalam situasi yang penuh penderitaan ini, beliau mencari alternatif dukungan untuk melanjutkan dakwah.
Rasulullah SAW melakukan perjalanan yang sangat melelahkan ke Thaif dengan harapan menemukan kaum yang bersedia menerima Islam dan memberikan perlindungan. Bersama Zaid bin Haritsah, beliau menempuh perjalanan sejauh lebih dari 100 km, berjalan kaki melintasi lembah-lembah dan bebatuan tajam.
Alih-alih mendapatkan sambutan hangat, Rasulullah SAW justru disambut dengan penghinaan dan kekejaman. Tiga pemuka Bani Tsaqif—Abdu Yalayl, Mas’ud, dan Habib—menolak dakwah beliau dengan nada sinis. Bahkan lebih dari itu, mereka memprovokasi massa dan anak-anak kecil untuk melempari beliau dengan batu hingga darah mengalir dari kaki mulianya.
Dalam kondisi luka parah dan kelelahan, Rasulullah SAW berlindung di sebuah kebun milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah, dua tokoh Quraisy yang secara mengejutkan menunjukkan simpati. Mereka memerintahkan budaknya, Addas, untuk mengantarkan anggur. Saat Rasulullah SAW menyebut nama Allah sebelum makan, Addas yang berasal dari Ninawa (kampung Nabi Yunus AS) pun tersentuh hatinya dan memeluk Islam.
Di tengah penderitaan itu, Rasulullah SAW tidak mengutuk penduduk Thaif. Sebaliknya, beliau memanjatkan doa yang menggambarkan kelembutan dan ketabahan luar biasa:
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadu tentang kelemahan kekuatanku, kurangnya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia… Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli… Namun, afiat-Mu lebih luas bagiku…”
Doa tersebut menunjukkan sikap tawakkal dan kecintaan yang dalam kepada Allah SWT, serta harapan akan hidayah bagi kaum yang belum mengenal Islam.
Baca Juga : Kisah Uwais Al Qarni yang Rela Gendong Ibunya Naik Haji: Teladan Cinta dan Bakti Sepanjang Zaman
Salah satu momen penting yang menegaskan kemuliaan akhlak Rasulullah SAW terjadi ketika malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menimpakan dua gunung kepada penduduk Thaif sebagai balasan atas perlakuan mereka. Namun Rasulullah SAW menolaknya dengan penuh kasih sayang dan berkata:
“Bahkan aku berharap bahwa Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya.”
Inilah bukti nyata dari visi jauh ke depan dan pengampunan seorang nabi yang lebih mengutamakan rahmat dibandingkan balas dendam.
Meskipun awalnya menolak, Thaif kemudian menjadi bagian penting dalam peradaban Islam. Sekitar sembilan tahun kemudian, pasca Fathu Makkah, Bani Tsaqif akhirnya masuk Islam secara sukarela. Sejak saat itu, Thaif menjadi salah satu pusat keilmuan dan dakwah Islam di wilayah Hijaz.
Kota ini juga dikenal dengan pembangunan masjid-masjid bersejarah seperti Masjid Addas dan Masjid Kuk yang menjadi simbol perjalanan dakwah Rasulullah SAW.
Kisah Rasulullah SAW di Thaif menyimpan banyak hikmah yang relevan untuk kehidupan kita saat ini:
Saat ini, Thaif telah berkembang menjadi kota modern dengan infrastruktur memadai dan keindahan alam yang memikat. Namun yang tak tergantikan adalah nilai spiritual yang melekat dalam setiap sudut kotanya. Para peziarah dan wisatawan sering mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang menjadi saksi perjuangan Rasulullah SAW.
Beberapa destinasi spiritual yang sering dikunjungi di Thaif antara lain:
Thaif bukan sekadar kota, melainkan simbol abadi dari kesabaran, keteguhan, dan kasih sayang dalam menyampaikan kebenaran. Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan dakwah dengan lisan, tapi juga dengan sikap dan tindakan penuh cinta.
Kita, sebagai umatnya, patut merenungkan kembali peristiwa ini sebagai motivasi dalam menyampaikan nilai-nilai Islam dengan hikmah dan kelembutan hati, walau harus menghadapi tantangan sebesar apa pun.