
Qolbu Group Indonesia – Tahiyat akhir merupakan salah satu rukun penting dalam shalat yang harus dibaca dengan penuh kekhusyukan. Dalam bacaan ini, kita menemukan penyebutan nama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, selain nama Nabi Muhammad ﷺ. Pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa nama Nabi Ibrahim disebutkan dalam doa tahiyat akhir? Untuk menjawab hal ini, mari kita telusuri lebih dalam dasar dalil, sejarah, serta hikmah di balik penyebutan nama Nabi Ibrahim dalam tahiyat.
Bacaan tahiyat akhir yang populer di kalangan umat Islam dikenal dengan shalawat Ibrahimiyah. Dalil yang menjadi landasannya berasal dari hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang cara bershalawat, beliau menjawab dengan doa berikut (dalam makna):
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah sendiri yang mengajarkan umatnya untuk membaca shalawat dengan menyebut nama Nabi Ibrahim. Dengan demikian, hal ini memiliki dasar syar’i yang sangat kuat dan bukan sekadar tambahan dalam bacaan shalat.
Ada beberapa alasan yang mendasari penyebutan nama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam tahiyat akhir:
Nabi Ibrahim dikenal dengan gelar Khalilullah (kekasih Allah). Kedudukannya yang begitu agung membuat Allah memuliakannya dengan doa dan pujian yang terus terulang sepanjang zaman. Dengan menyebut namanya, kita mengingat betapa besar jasa Nabi Ibrahim dalam menyebarkan tauhid.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan doa Nabi Ibrahim yang memohon agar keturunannya tetap dalam jalan yang lurus. Nabi Muhammad ﷺ adalah jawaban dari doa Nabi Ibrahim, karena beliau berasal dari keturunan Nabi Ibrahim melalui jalur Nabi Ismail. Maka, menyebut nama Ibrahim berarti mengakui hubungan spiritual dan garis keturunan yang menghubungkan beliau dengan Nabi Muhammad ﷺ.
Allah berfirman bahwa Islam adalah kelanjutan dari millah Ibrahim (agama Ibrahim). Dengan menyebut Nabi Ibrahim dalam shalawat, kita menegaskan bahwa ajaran Nabi Muhammad ﷺ adalah kelanjutan dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim.
Nabi Ibrahim adalah salah satu nabi ulul azmi yang menghadapi ujian berat, mulai dari dibakar hidup-hidup hingga meninggalkan keluarganya di tanah tandus (Mekkah). Pengorbanannya yang luar biasa ini membuat umat Islam diperintahkan untuk senantiasa mengingat dan memuliakannya.
Salah satu alasan kuat penyebutan Nabi Ibrahim dalam tahiyat akhir adalah karena beliau memiliki keterkaitan erat dengan Ka’bah dan ibadah shalat:
Doa ini selaras dengan shalat yang kita kerjakan sekarang. Maka, wajar jika namanya disebut dalam bacaan inti shalat sebagai bentuk penghormatan atas jasa beliau.
Menyebut nama Nabi Ibrahim dalam tahiyat akhir menegaskan kesinambungan misi para nabi dalam menyebarkan tauhid. Hal ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama baru, melainkan kelanjutan dari agama para nabi terdahulu.
Dengan adanya perbandingan “sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim,” maka shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ menjadi lebih agung. Hal ini mengangkat derajat Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi.
Ketika menyebut nama Nabi Ibrahim, kita diingatkan pada perjuangannya yang penuh pengorbanan dalam menegakkan tauhid. Ini memberikan motivasi agar kita juga teguh dalam menjalankan agama.
Shalawat Ibrahimiyah dianggap sebagai shalawat paling sempurna karena menggabungkan doa untuk Nabi Muhammad, keluarganya, serta menghubungkannya dengan doa untuk Nabi Ibrahim dan keluarganya.
Meski shalawat Ibrahimiyah disepakati sebagai bacaan utama, ada beberapa variasi bacaan tahiyat akhir di kalangan ulama. Perbedaan ini muncul dari ragam riwayat hadits yang sampai kepada mereka. Namun, kesepakatan mayoritas ulama menyatakan bahwa bacaan shalawat Ibrahimiyah adalah yang paling utama, karena memiliki sanad yang kuat dan jelas.
Menyebut nama Nabi Ibrahim dalam tahiyat akhir bukan hanya sekadar ritual. Lebih dari itu, bacaan ini memiliki dampak besar dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim:
Penyebutan nama Nabi Ibrahim dalam tahiyat akhir bukanlah tanpa alasan. Ia merupakan bagian dari tuntunan Rasulullah ﷺ yang memiliki dasar dalil yang kuat dalam hadits shahih. Nabi Ibrahim disebut karena kedudukannya yang agung, doa dan perjuangannya dalam menegakkan tauhid, serta perannya dalam sejarah agama Islam yang tidak bisa dilepaskan dari syariat Nabi Muhammad ﷺ.
Dengan memahami makna ini, kita dapat membaca shalawat Ibrahimiyah dalam tahiyat akhir dengan penuh penghayatan, sehingga shalat kita menjadi lebih khusyuk dan bermakna.